Apakah Anda Siap? Mengapa Growth Mindset, Agility & Resilience Jadi Kunci Menghadapi Perubahan

Apakah Anda Siap? Mengapa Growth Mindset, Agility & Resilience Jadi Kunci Menghadapi Perubahan

Apakah Anda Siap? Mengapa Growth Mindset, Agility & Resilience Jadi Kunci Menghadapi Perubahan

Saat pandemi memaksa perusahaan beralih total ke sistem kerja jarak jauh, Nia, manajer proyek di sebuah perusahaan teknologi dihadapkan pada kenyataan pahit: separuh rencana tahunan tak lagi relevan. Alih-alih panik, ia memilih untuk bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?” Dari sinilah, perubahan besar dalam dirinya dimulai.

3 Langkah Pelatihan Coach‑Style untuk Memupuk Ketiga Kekuatan Ini

  1. Membangun Growth Mindset Lewat Pelatihan Reflektif dan AI Simulation & RoleplayNia mengikuti sesi training yang menggunakan AI simulation & roleplay, salah satunya mensimulasikan skenario ketika ide ditolak dalam rapat eksekutif. Alih-alih merasa gagal, sesi reflektif yang dipandu coach mendorongnya mengevaluasi pendekatannya dan menyusun ulang strateginya.Pertanyaan sederhana dari sang coach mengubah cara pandangnya: “Kalau penolakan ini adalah sinyal untuk pendekatan baru, apa yang akan kamu ubah?” Dari sinilah growth mindset Nia mulai terbentuk—ia melihat tantangan bukan sebagai ancaman, melainkan bahan bakar untuk bertumbuh.
  2. Melatih Agility melalui Skill Practice dan Action Planning yang DinamisDalam proyek mendesak, Nia harus mengatur ulang tim dalam waktu kurang dari 24 jam. Saat itulah ia mengingat pelatihan skill practice yang pernah ia jalani: merespons perubahan prioritas dalam hitungan menit.Coach-nya mendorongnya menyusun action plan versi B dan C bahkan sebelum skenario darurat muncul. Kini, setiap kali ia memulai proyek baru, ia bertanya: “Kalau ini berubah haluan, seberapa cepat saya bisa beradaptasi?”
  3. Menguatkan Resilience Lewat Coaching dan Latihan KetangguhanKetika hasil evaluasi triwulan menunjukkan performa timnya menurun, Nia sempat terpukul. Namun ia teringat sesi coaching yang menekankan pentingnya “bounce back plan”—strategi untuk bangkit kembali.

    Ia pun menerapkan ritual sederhana: journaling tiap malam, menuliskan 3 hal yang berhasil, dan berbagi cerita dengan rekan sejawat. Sesi refleksi ini membuatnya sadar bahwa resilience bukanlah kemampuan untuk tak jatuh, tetapi kekuatan untuk bangkit lebih cepat dan lebih kuat.

Pertanyaannya bukan lagi “Apakah Anda siap berubah?” tapi “Apakah Anda punya ruang aman untuk bereksperimen, gagal, belajar, dan bangkit kembali?”

Bagi Nia, perjalanan ini tak hanya mengubah gaya kepemimpinannya, tetapi juga cara ia memandang tantangan hidup. Dari seseorang yang dulu takut salah, kini ia menjadi pemimpin yang bertanya pada timnya, “Apa yang bisa kita ubah dari cara kerja kita minggu ini?”

Bagi banyak profesional, perubahan dimulai saat mereka membuka diri terhadap pengalaman langsung, refleksi mendalam, dan percakapan yang bermakna—itulah peran coaching dalam perjalanan pertumbuhan yang tulus.