{"id":18346,"date":"2024-03-26T02:10:01","date_gmt":"2024-03-26T02:10:01","guid":{"rendered":"http:\/\/www.coachingindonesia.com\/?p=18346"},"modified":"2024-03-26T04:11:15","modified_gmt":"2024-03-26T04:11:15","slug":"apa-itu-coaching-pengertian-standar-global-dari-icf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/apa-itu-coaching-pengertian-standar-global-dari-icf\/","title":{"rendered":"Apa itu Coaching: Pengertian Standar Global dari ICF"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><p>[vc_row][vc_column][vc_column_text el_class=&#8221;texty-main&#8221;]<\/p>\n<div>Di Indonesia coaching masih sering disalahartikan sebagai metodologi pengajaran dan pelatihan. Padahal sesungguhnya coaching lebih dari itu. Menggunakan analogi coaching di dunia\u00a0olahraga, seorang coach bermitra dengan\u00a0atlet untuk memaksimalkan kemampuan\u00a0dirinya. Si atlet punya target\u00a0yang ingin dicapai dalam kurun waktu\u00a0tertentu.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Mereka lantas bekerjasama secara\u00a0intensif untuk memperbaiki kekurangan\u00a0si atlet, menyiapkan strategi dan mengatasi\u00a0hambatan mental yang menghalanginya\u00a0untuk tampil optimal.\u00a0Konsep ini lantas diadopsi di dunia\u00a0leadership dan bisnis yang tujuannya satu: memaksimalkan kinerja organisasi melalui pemaksimalan SDM-nya.<\/div>\n<h4><\/h4>\n<h4><strong>Definisi Coaching Menurut ICF<\/strong><\/h4>\n<p>ICF (International Coach Federation), organisasi coaching dunia yang didirikan tahun 1995, mendefinisikan coaching sebagai:<\/p>\n<blockquote>\n<h4>\u201cHubungan kemitraan antara coach dan\u00a0individu yang dijalin melalui proses kreatif\u00a0untuk memaksimalkan potensi personal\u00a0dan profesional dirinya.\u201d<\/h4>\n<\/blockquote>\n<div>Berbeda dengan training yang sifatnya satu arah, coaching mengutamakan percakapan eksploratif secara dua arah yang mampu menggali ide dan memperkuat keyakinan si penerima coaching untuk melakukan tindakan maksimal.<\/div>\n<div><\/div>\n<h4><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/sertifikasi-coaching-profesional\/\">Program Sertifikasi Coaching Standar Internasional dari ICF<\/a><\/strong><\/h4>\n<div><\/div>\n<div>Coach dan coachee atau kliennya (orang yang menerima coaching) menyepakati beberapa paramater ukuran:<\/div>\n<ul>\n<li>Tujuan yang ingin dicapai.<\/li>\n<li>Jangka waktu pelaksanaan coaching (berapa lama dan berapa sesi)<\/li>\n<li>Area-area pengembangan.<\/li>\n<li>Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pencapaian.<\/li>\n<\/ul>\n<div>Mereka lantas bekerjasama untuk memperbaiki kekurangan, memberdayakan kekuatan dan membuat strategi yang lebih efektif untuk mencapai tujuan yang disepakati. Si coachee dibantu untuk membangun mindset baru dan mengubah perilaku agar ia mampu meraih tujuan.<\/div>\n<div><\/div>\n<h4><strong>Dampak Coaching di Organisasi<\/strong><\/h4>\n<div><\/div>\n<div>Studi global pada tahun 2012 yang\u00a0dilakukan oleh ICF (International Coach\u00a0Federation) menunjukkan data fantastis: perusahaan\u00a0yang menerapkan coaching untuk\u00a0keperluan bisnis ternyata memperoleh\u00a0ROI (Return On Investment) sebesar\u00a07 kali lipat dari nilai investasi yang ditanamkan.<\/div>\n<div>Fakta ini membuat banyak perusahaan\u00a0mendorong manajernya untuk\u00a0menerapkan coaching dengan harapan\u00a0terjadinya peningkatan kinerja\u00a0<em>(performance)<\/em>\u00a0sekaligus juga terciptanya hubungan\u00a0antar individu\u00a0<em>(engagement)<\/em>\u00a0yang lebih baik.<\/div>\n<h4><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/leader-as-coach\/\">Menjadi Leader as Coach di Organisasi<\/a><\/strong><\/h4>\n<div><\/div>\n<div>Pengalaman dengan klien kampi pun menunjukan tren yang sama. Para manajer yang menerapkan coaching terbukti mampu memperkuat kerjasama tim, meningkatkan efisiensi kerja dan mempercepat pencapaian target perusahaan. Manajer tidak lagi sekedar mengelola pekerjaan, namun juga menjadi leader dan coach yang mampu memimpin timnya melalui interaksi yang kolaboratif. Pemecahan masalah, misalnya, tidak lagi bergantung pada satu orang melainkan melalui proses facilitation yang melibatkan partisipasi individu lainnya.<\/div>\n<div><\/div>\n<h4><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/leader-as-coach\/\">Leader as Coach untuk Publik<\/a><\/h4>\n<p>[\/vc_column_text][\/vc_column][\/vc_row]<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"[vc_row][vc_column][vc_column_text el_class=&#8221;texty-main&#8221;] Di Indonesia coaching masih sering disalahartikan sebagai metodologi pengajaran dan pelatihan. Padahal sesungguhnya coaching lebih dari itu. Menggunakan analogi coaching di dunia\u00a0olahraga, seorang coach bermitra dengan\u00a0atlet untuk memaksimalkan kemampuan\u00a0dirinya. Si atlet punya target\u00a0yang ingin dicapai dalam kurun waktu\u00a0tertentu. Mereka lantas bekerjasama secara\u00a0intensif untuk memperbaiki kekurangan\u00a0si atlet, menyiapkan strategi dan mengatasi\u00a0hambatan mental yang menghalanginya\u00a0untuk &#8230;","protected":false},"author":1,"featured_media":18347,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[104,1],"tags":[],"class_list":["post-18346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18346"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18346\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18352,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18346\/revisions\/18352"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.coachingindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}